Praktikal session
Dokter-Patient Communication On Therapeutics
A. Skenario A
Mrs.Tina 38tahun berkonsultasi dengan dr.Saleh. Dia menderita sakit gigi. Pipinya bengkak, dan dia telah mengalami nyeri pada malam hari. Dia meminta dr.Saleh untuk melakukan keajaiban untuk menghilangkan nyerinya segera. Dia telah mencoba dengan handuk panas dan berkumur dengan air garam untuk mengurangi rasa sakitnya. Dr.saleh mengetahui bahwa ini merupakan nyeri gigi akut, yang dapat dia lakukan pada saat itu adalah dengan memberikan tablet analgesic untuk meringankan nyerinya, dan meminta untuk mengunjungi dokter gigi ketika nyerinya telah berkurang. Dr.saleh mengetahui ada tiga pilihan untuk analgesics, yaitu aspirin, paracetamol, dan asam mefenamic. Aspirin adalah analgesic yang paling kuat, tetapi dapat memicu terjadinya asthma dan menyebabkan iritasi lambung. Asam mefenamik adalah analgesic dengan daya yang sedikit kurang;ini dijual harus dengan resep dokter karena efek samping yang serius. Parasetamol adalah pilihan terbaik berdasarkan efisiensi dan keamanannya, tetapi obat ini terlalu umum. Orang-orang terlalu familiar dengan ini dan seseorang dapat membeli parasetamol dimanapun, antara tiga pilihan ini asam mefenamic adalah yang paling mahal. Dr.saleh ingin meresepkan parasetamol karena ini adalah pilihan terbaik , tetapi Mrs.Tina menolaknya. Dia lebih suka memiliki sebuah “sophisticated” obat, tidak hanya parasetamol. Dr.saleh meyakinkan Mrs.Tina bahwa parasetamol adalah pilihan terbaik.
B. Skenario B
Nanang (26 tahun) adalah anak laki-laki Mrs.Sapti, seorang wanita 70 tahun. Dia menderita arthritis rheumatoid kronik. Dia selalu menemani ibunya untuk mengunjungi dr. rustam untuk kunjungan rutin. Mereka sekarang berada diruang konsultasi dr.Rustam. seperti biasa, dr.Rustam menuliskan resep diclofenac tablet, sebuah anti-rheumatoid dan diazepam, sebuah sedative bantuan tidur. Dia tidak mengatakan sesuatu tetapi terseyum ketika dr.Rustam sedang menuliskan resep. Tiba-tiba, Mrs.Sapti bosan dengan mengkonsumsi obat. Dia merasa bosan meminum obat dan merasa sendiri di malam hari. Dia ingin berbicara pada seseorang di waktu tidur, tetapi setiap orang di rumahnya percaya dia tertidur baik karena dokter memberinya diazepam. Dia tidak berkata pada siapapun, tidak juga pada nanang, dia telah tidak mengkonsumsi obat selama dua minggu (psssstt jangan bilang dokter), dan sekarang dia merasa nyeri disini dan terasa sekali pada badannya. Beruntung, dr.Rustam tersenyum dan menyadari jika ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Dia mencoba mengetahui perasaan yang tidak diekspresikan dan menyakinkan Mrs.Sapti tentang treatment penting. Dia mengingat seorang senior geriatrist yang berkata apanya untuk pasien tua. Sebuah sentuhan lembut lebih baik dibandingkan dengan sebuah pil tidur. Dia menawarkan untung mengganti diclofenac tablet menjadi topical usap, dan menghentikan diazepam. Untuk itu dia meminta nanang untuk menyuruh seseorang untuk menemani Mrs.Sapti pada waktu tidur dan bercerita kepadanya sambil mengusap-usap badannya.
B. Analisis
Seorang dokter tidak hanya di tuntut untuk memberikan pelayanan kedokteran/kesehatan sesuai kemajuan iptek kedokteran mutakhir yang dilandasi etika kedokteran, hukum dan agama namun juga seorang dokter mampu berkomunikasi secara aktif dan mengerti bagaimana menyampaikan berita buruk kepada pasien/keluarga pasien dalam hal ini secara baik dan tepat. Mampu memberikan penjelasan yang jelas sekaligus juga memberikan ketenangan agar keluarga pasien dapat segera memilih tindakan yang tepat untuk segera dilakukan.
Apabila dokter menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang salah atau sampai membuat hati keluarga pasien marah maka keadaan akan semakin memburuk sehingga dokter perlu berhati-hati dan memilih kata-kata dan waktu yang tepat dalam menyampaikan informasi tersebut.selain itu dokter juga dituntut untuk dapat menumbuhkan rasa empati terhadap derita yang dialami pasien dan berusaha memahami keadaan terhadap kondisi pasien. Jika hal ini masih sulit untuk dilakukan oleh seorang dokter, dokter bisa meminta bantuan berupa konseling/pendapat dan saran dari ahli psikiater atau psikolog untuk bisa menangani keluarga pasien tersebut. Selain itu, tempat penyampaian informasi juga perlu di perhatikan. Penyampaian informasi hendaknya dilakukan di ruang praktik dokter agar privasi pasien tetap terjaga.
Berdasarkan Konsil Kedokteran Indonesia menetapkan secara ringkas ada 6 (enam) hal yang penting diperhatikan agar efektif dalam berkomunikasi dengan pasien dalam memberikan informasi mengenai keadaan pasien, yaitu:
1. Materi Informasi apa yang disampaikan
a. Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat pemeriksaan).
b. Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis.
c. Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan diagnosis, termasuk manfaat, risiko, serta kemungkinan efek samping/komplikasi.
d. Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis.
e. Diagnosis, jenis atau tipe.
f. Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi (kekurangan dan kelebihan masing-masing cara).
g. Prognosis.
h. Dukungan (support) yang tersedia.
2. Siapa yang diberi informasi
a. Pasien, apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan.
b. Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien.
c. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan bertanggungjawab atas pasien kalau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung
3. Berapa banyak atau sejauh mana
a. Untuk pasien: sebanyak yang pasien kehendaki, yang dokter merasa perlu untuk disampaikan, dengan memerhatikan kesiapan mental pasien.
b. Untuk keluarga: sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan sebanyak yang dokter perlukan agar dapat menentukan tindakan selanjutnya.
4. Kapan menyampaikan informasi
Segera, jika kondisi dan situasinya memungkinkan.
5. Di mana menyampaikannya
a. Di ruang praktik dokter.
b. Di bangsal, ruangan tempat pasien dirawat.
c. Di ruang diskusi.
d. Di tempat lain yang pantas, atas persetujuan bersama, pasien/keluarga dan dokter.
6. Bagaimana menyampaikannya
a. Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung, tidak melalui telpon, juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos, faksimile, sms, internet.
b. Persiapan meliputi:
- materi yang akan disampaikan (bila diagnosis, tindakan medis, prognosis sudah disepakati oleh tim);
- ruangan yang nyaman, memperhatikan privasi, tidak terganggu orang lalu lalang, suara gaduh dari tv/radio, telepon;
- waktu yang cukup;
- mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga/orang yang ditunjuk; bila hanya keluarga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang).
c. Jajaki sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan.
d. Tanyakan kepada pasien/keluarga, sejauh mana informasi yang diinginkan dan amati kesiapan pasien/keluarga menerima informasi yang akan diberikan.
Sebagaimana yang kita ketahui, profesi dokter sejak perintisannya telah terbukti sebagai profesi yang luhur dan mulia dan ditunjukkan oleh 6 sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan kerja, integritas ilmiah, dan sosial. Oleh karena itu, agar dalam hubungan tersebut ke enam sifat dasar dapat tetap terjaga, disusun KODEKI tersebut yang merupakan kesepakatan dokter Indonesia bagi pedoman pelaksanaan profesi.
Selain itu bahasa tubuh kita juga sangat berpengaruh bagi kenyamanan pasien, sehingga seorang dokter seharusnya harus bisa bersikap ramah dengan tersenyum terhadap pasien, tidak canggung mengatakan “maaf” terhadap pasien serta melakukan eye contact terhadap pasien agar pasien merasa nyaman dalam berkonsultasi terhadap dokter.
Dalam memberikan pengobatn terhadap pasien kita juga harus meminta persetujuan(informant consent) terhadap terapi yang akan dokter berikan, namun sebelumnya seorang dokter harus selalu membangun hubungan komunikasi yang baik,jujur dan berusaha menumbuhkan rasa percaya pasien sehingga dokter dapat menjelaskan dengan baik terapi terbaik bagi pasiennya dan berusaha memberikan penjelasan dan membuat pasien mengerti. sehingga pelayanan kesehatan serta kepuasan pasien dapat terpenuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar