docterchef

docterchef

Minggu, 25 Desember 2011

Small Group Discussion A Child With Enchepalitis (block 6)

Small Group Discussion
A Child With Enchepalitis
A.        Kasus
Seorang anak berusia 2 tahun, awalnya tumbuh dengan baik dan normal,  dia mampu berjalan dan berbicara. Pertumbuhannya berjalan dengan baik. namun secara tiba-tiba ia mengalami infeksi dengan gejala demam tinggi disertai kejang. Berdasarkan hasil lumbar pungsi (lumbar  puncture) adalah encephalitis. Ini dibarengi dengan beberapa symptom, tanpa kesadaran dan dalam keadaan koma, dengan mengalami kenaikan suhu tubuh. Faktanya,ada kelainan cairan serebrospinal. Dari hasil pemeriksaan laboratorium diagnosis yang didapatkan adalah encephalitis. Disini letak terjadinya dilemma, apa seharusnya yang harus dilakuakan untuk memberitahu kebenaran dan informasi dengan prognosis yang tidak baik kedepannya.
Meskipun secara ilmiah anak tersebut dapat diselamatkan, berdasarkan data statistik kasus ini akan berkelanjutan. Artinya akan terjadi gangguan mental dan motorik. Dilemmanya, kapan waktu yang baik untuk menginformasikan ayah pasien. Apakah pada waktu  kritis atau setelah pasien melewati masa krisis??
B.        Permasalahan
            1.         Untuk mengetahui cara berkomunikasi yang baik mengenai kondisi pasien
2.         Untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan kondisi pasien
C.        Analisis
Penyampaian informasi oleh dokter yang realistis memiliki kekuatan khusus. Dengan keahlian dan kemampuannya menyampaikan informasi, seorang dokter dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan pasien.
Ada beberapa alasan yang perlu diberitahukan pada pasien mengenai kejelasan penyakit, langkah atau tindakan pengobatan dan akibatnya.
1.      Pemberian informasi kepada pasien dapat memberikan pengetahuan mengenai obat yang semestinya diminum dan akibatnya jika tidak diminum. Informasi membuat pasien dapat bekerjasama saat mengatasi penyakitnya. Pasien akan mengikuti semua petunjuk bila ia mengerti dan memahami petunjuk itu.
2.      Tindakan pengobatan tergantung pada tingkat kelainan atau adanya perubahan anatomis atau fisiologis yang sementara maupun permanen. Informasi yang realistis mengenai prosedur pengobatan dapat mengurangi rasa kecemasan dan ketakutan pasien di banding informasi yang jelek atau malah tidak mendapatkan informasi sama sekali.
3.      Pasien yang terlalu percaya pada dokternya sering menimbulkan ketergantungan berlebihan. Informasi yang secukupnya tentang prosedur pengobatan dapat mengurangi penderitaan pasien.
Dalam memberikan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) kepada pasien, sebaiknya dokter memperhatikan beberapa hal berikut ini.
1.      Hindari menggunakan istilah kedokteran yang tidak dimengerti pasien.
2.      Gunakan angka-angka kalau ada datanya.
3.      Tulis beberapa informasi yang penting.
4.      Perlu diketahui, informasi yang sama dapat diinterpretasikan berbeda tergantung cara kita menyampaikan pada pasien.
5.      Perlu diwaspadai, KIE tergantung pada kemampuan dan kognitif pasien.
6.      Menilai pengertian dan atensi pasien berulang kali.
Pada penyakit kronis atau penyakit yang disertai kecacatan yang berat, sebaiknya dokter memberitahukan kenyataan atau fakta yang ada. Terutama cara adaptasi yang cepat dan tepat terhadap perubahan hidupnya. Pasien penyakit kronis seharusnya menerima kenyataan agar mereka lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya. Kecemasan dan rasa takut yang berlebihan tidak saja ditimbulkan dari penyakit yang diderita pasien, tetapi juga dari tekanan masyarakat yang sering memberikan simbol tertentu pada penyakitnya.
Berdasarkan Konsil Kedokteran Indonesia menetapkan secara ringkas ada 6 (enam) hal yang penting diperhatikan agar efektif dalam berkomunikasi dengan pasien dalam memberikan informasi mengenai keadaan pasien, yaitu:
1.     Materi Informasi apa yang disampaikan
a.       Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat pemeriksaan).
b.      Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis.
c.       Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan diagnosis, termasuk manfaat, risiko, serta kemungkinan efek samping/komplikasi.
d.      Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis.
e.       Diagnosis, jenis atau tipe.
f.       Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi (kekurangan dan kelebihan masing-masing cara).
g.      Prognosis.
h.      Dukungan (support) yang tersedia.
2.         Siapa yang diberi informasi
a.       Pasien, apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan.
b.      Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien.
c.       Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan bertanggungjawab atas pasien kalau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung
            3.         Berapa banyak atau sejauh mana
a.       Untuk pasien: sebanyak yang pasien kehendaki, yang dokter merasa perlu untuk disampaikan, dengan memerhatikan kesiapan mental pasien.
b.      Untuk keluarga: sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan sebanyak yang dokter perlukan agar dapat menentukan tindakan selanjutnya.
4.         Kapan menyampaikan informasi
Segera, jika kondisi dan situasinya memungkinkan.
            5.         Di mana menyampaikannya
a.       Di ruang praktik dokter.
b.      Di bangsal, ruangan tempat pasien dirawat.
c.       Di ruang diskusi.
d.      Di tempat lain yang pantas, atas persetujuan bersama, pasien/keluarga dan dokter.
6.               Bagaimana menyampaikannya
a.       Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung, tidak melalui telpon, juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos, faksimile, sms, internet.
b.      Persiapan meliputi:
-        materi yang akan disampaikan (bila diagnosis, tindakan medis, prognosis sudah disepakati oleh tim);
-        ruangan yang nyaman, memperhatikan privasi, tidak terganggu orang lalu lalang, suara gaduh dari tv/radio, telepon;
-        waktu yang cukup;
-        mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga/orang yang ditunjuk; bila hanya keluarga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang).
c.       Jajaki sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan.
d.      Tanyakan kepada pasien/keluarga, sejauh mana informasi yang diinginkan dan amati kesiapan pasien/keluarga menerima informasi yang akan diberikan.
Selain itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan berita buruk adalah Merespon emosi pasien, seperti :
a.       Mendorong pasien untuk mencurahkan emosinya.
b.      Menghargai emosi pasien dan memberi empati.
c.       Menolerir suasanan diam sejenak.
d.      Membangun rasa empati terhadap pasien.
Pemberitahuan diagnosis ini bertujuan untuk memperoleh persetujuan dari pasien atas pengobatan atau terapi yang akan diberikan kepada pasien. Oleh karena itu, dokter memiliki kewajiban untuk memberikan informasi yang benar dan meminta persetujuan atas tindakan terapetik yang akan diberikan kepada pasiennya, yang menjadi pertimbangan kami adalah perlu tidaknya pasien mendapatkan penanganan tindakan segera sehingga penyampaian informasi juga harus segera dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dokter dan pihak keluarga pasien apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau resiko terhadap penyakit yang diderita.
Dalam menjalankan peran dan tugasnya, seorang dokter wajib memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar mampu menyampaikan informasi yang benar mengenai suatu penyakit yang di derita pasiennya serta mampu menunjukan rasa empati, memberi support dan pengertian terhadap masalah-masalah yang berkaitan tentang kondisi pasiennya. Dalam melakukan komunikasi, seorang dokter harus memahami bahwa komunikasi yang diberikan kepada pasien untuk menggali dan bertukar informasi mencakup bahasa verbal dan bahasa non verbal.





           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar